in

Kisah Nenek Tertua Di Indonesia Yang Saat Ini Berusia 102 Tahun

Nenek 102 Tahun

Mempunyai umur panjang merupakan keajaiban bagi sebagian manusia, karena rata-rata umur manusia biasanya adalah 70 sampai dengan 80 tahunan apabila mengikuti pola hidup yang sehat.

Namun siapa sangka, ukuran umur tersebut ternyata sudah banyak rekor yang dipecahkan oleh beberapa manusia ajaib, yaitu dengan umur lebih dari 100 tahunan, salah satunya yaitu nenek yang berasal dari Indonesia tepatnya tinggal didaerah semarang.

Nenek 102 Tahun

dilansir dari tribunjateng. Nenek yang kini tinggal di Jalan Citarum Utara Nomer 30 Mlatiharjo, Kota Semarang Jawa Tengah itu kini berusia 102 tahun. Tercatat ia baru saja merayakan ulangtahunnya pada 8 November lalu sejak tahun 1917.

Nenek saat muda

Pemilik nama tionghoa The Kiet Nio alias nenek sulis itu kini tinggal bersama putri keempatnya dan satu perawat. Jangan salah meski usia 102 tahun, kesehatan nenek sulis bisa dibilang top markotop. Wajah keriput khas nenek-nenek memang tak bisa disembunyikan.

Akan tetapi, setiap kata yang dilafalkan masih terdengar jelas. Pandangannya pun masih terbilang oke meski katanya sedikit buram saat terlalu jauh (rabun jauh). ia mengatakan sejauh ini tak mengeluhkan rasa sakit pada kondisi fisiknya.

Hanya saja kini rutinitasnya sehari-hari harus menggunakan kursi roda, namun soal makan, nenek sulis tak memiliki satu pun pantangan. Semua jenis makanan ia makan.

Bahkan hingga kini sang nenek masih suka makan dengan sambal pedas cabe rawit ditemani dengan minuman air es.

Melalui sang anak, Indahsari (70), diceritakan kisah nenek yang kini memiliki 6 anak, 11 cucu, dan 13 cicit tersebut. Dulu sang nenek menikah dengan seorang laki-laki yang juga keturunan Tionghoa bernama Go Siang Lok.

Termasuk bekerja sama membantu penghasilan tambahan dengan membuka jasa konveksi bermodalkan 3 mesin jahit, perihal kesehatan, Indah menyebut ibunya tak mempunyai kegiatan khusus selama remaja.

Namun, sejak ditinggal sang suami tubuhnya selalu bergerak guna memperjuangkan makan anak-anaknya. Kala itu, hampir dipastikan keluarga makan sayur-sayuran setiap harinya, karena keterbatasan ekonomi, sesekali makan tahu tempe dan telor.

Written by Andrian Wicaksono

Sometimes an author, sometimes a photographer, sometimes also a front end developer.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Comments

0 comments

Pegunungan Aoraki, Selandia Baru

10 Negara Terindah di Dunia, Indonesia ?

Viral, Dokter Ahli Bedah Asal China Memperlihatkan Kondisi Paru-paru Perokok Aktif Selama 30 Tahun